Album: Perahu Retak
Artist: Franky Sahilatua dan Emha Ainun Nadjib
Kode: 2-0549.4
Label: Ken Project & Metrotama Musik Nusantara
Tahun: 1996
Harga (saat rilis): 7.500,-
Ini merupakan album hasil dari sebuah kolaborasi dahsyat antara Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun sebagai pencipta lirik dengan Franky Sahilatua sebagai pencipta lagu dan sekaligus menyanyikannya dalam album ini. Keseluruhan lirik dalam album ini diciptakan oleh Cak Nun ini kemudian dirangkai dengan temuan nada hasil pemikiran Franky Sahilatua, dan kemudian difinishing dengan sangat baik oleh Toto Tewel selaku penata musik dalam album ini. Album ini juga dibantu banyak musisi lainnya seperti Edi Darome pada keyboard, Innisisri pada drum khusus lagu Perahu Retak dan Lagu Capek, Bakar dan Rudy Q-Red pada drum semua lagu, Buang Yus pada suling dan Ivan Nestroman bernyanyi syair dalam bahasa Manggarai pada lagu E Wada.
Sepertinya menurut admin pribadi, inilah album dari seluruh album Franky Sahilatua yang memiliki kritik terkeras dan memiliki fokus terhadap permasalahan sosial yang berkembang saat itu dan ternyata masih sangat update hingga saat ini. Lagu utama berjudul Perahu Retak dan juga digunakan sebagai judul album menyoroti tentang perjalanan bangsa ini yang diibaratkan dengan sebuah kapal besar yang mengarungi ganasnya lautan luas, belum lagi permasalahan hantaman ombak yang sewaktu waktu bisa menenggelamkan kapal selesai, ternyata digerogoti pula oleh permasalahan dari dalam seperti korupsi yang merajalela, orang yang benar disingkirkan, orang yang salah dipertahankan dan keserakahan diagungkan, lagu ini mengingatkan kita bersama tentang begitu banyaknya permasalahan mendera bangsa ini yang harus segera diselesaikan untuk keselamatan bersama. Meskipun begitu pada beberapa bait dalam lagu ini masih ada terselip nasehat optimis bagi kita bersama agar tetap tegar dan terus berjuang seperti pada kalimat '..Semangat Rakyatku, Derap Kaki Tekadmu, Jangan Terantuk Batu'. Bahkan hingga saat ini, dizaman yang serba digital, perjalanan kapal besar bernama Indonesia ini masih butuh perhatian dan rangkulan tangan kita bersama untuk menjaganya.
Lagu kedua berjudul E Wada, yang beberapa baitnya menggunakan bahasa Manggarai, Flores, NTT merupakan lagu yang cukup menyentuh, tema besarnya merupakan sebuah pertanyaan besar mengapa harus selalu ada orang yang disingkirkan demi sebuah alasan kemajuan, dan lebih menyakitkan lagi itu dilakukan oleh saudara sebangsanya sendiri, sedangkan dalam kasih sayang Tuhan yang diajarkan selama ini kita bisa berbagi. Pengibaratan antara manusia dan burung yang menurut kita tidak memiliki daya fikir, ternyata mampu membangun sarang anaknya dan berbuat banyak kebaikan daripada manusia yang berbuat kerusakan. Sebuah pengingat juga bagi kita semua, semoga tidak menzalimi sesama manusia, '..jika ada yang sepi, jenguklah hatinya, jika ada yang sunyi sapalah jiwanya, jika ada yang menangis, tersentuhkah hatimu?, jika ada yang merintih, nyenyakah tidurmu?' potongan lirik diatas mengajarkan tentang berbagi dan silaturahmi dengan sesama agar tidak ada yang merasa sendirian ditengah keramaian. Lagu ini semakin apik dengan kehadiran suara Ivan Nestroman dalam mendendangkan lirik dalam bahasa Manggarai yang meski merdu namun terasa menyayat dihati.
Lagu ketiga berjudul Padang Bulan, merupakan lagu dengan tema ketuhanan, yang bukan melulu menyoal ketuhanan, tetapi juga bagaimana merangkul saudara setanah air yang ditinggalkan oleh derap kemajuan, sungguh pesan yang sangat mulia, ketika kita memasuki era modern yang sangat menonjolkan ego pribadi, lagu ini bisa menjadi sebuah tetesan jernih kedalam hati. Lagu ini terdengar sangat megah meski hanya diiringi dentingan gitar akustik yang dimainkan oleh Toto Tewel dan sedikit pulasan keyboard oleh Edi Darome kemudian dipermanis oleh kekuatan koor dibelakangnya. Lagu keempat berjudul Tak Kunjung Datang, berkisah tentang penantian panjang dari masyarakat tentang perwujudan kesejahteraan yang dijanjikan oleh para penguasa namun tak juga kunjung datang, meskipun telah dengan setia menunggu bertahun lamanya.
Lagu kelima berjudul Lho Koq! berkisah tentang sebuah pertanyaan yang ada didalam kepala Cak Nun saat itu dan juga mungkin benak kita semua, tentang lho koq begini lho kok begitu, lho kok diambil, lho kan bukan haknya?, dan banyak lha dan lho lainnya dalam lagu ini, bermacam pertanyaan tersebut ditumpahkan hingga jadilah lagu yang cukup dahsyat ini. Lagu keenam berjudul Lagu Capek masih seputar kritik terhadap pemerintahan saat itu, kehadiran Edi Darome dalam bernyanyi ala rapper disini cukup memberi warna, ia sendiri tidak menyangka akan benar benar diberikan part tersebut untuk dinyanyikan saat rekaman, saat itu ia hanya mencontohkan saja dan mungkin nanti akan diberikan kepada musisi yang benar benar rapper, ternyata pada perkembangan selanjutnya Franky Sahilatua lebih memilihnya untuk membawakan part lagu rap tersebut ketika rekaman.
Lagu ke tujuh berjudul Raksasa Kota bercerita tentang cengkraman kota yang menggilas hingga ujung desa terpencil, sesuap nasi, sepiring nasi yang ia tawarkan memusnahkan harga diri. Lagu kedelapan berjudul Parodi Saridin, menceritakan sosok fiktif bernama Saridin yang hilang ditelan gemuruh pembangunan, ia hanya bisa diam terpaku tanpa bisa berbuat apa apa sementara dikiri kanannya semuanya telah maju tersentuh pembangunan, sepertinya lagu ini masih ada kaitannya dengan lagu E Wada yang berkisah tentang masyarakat yang terpinggirkan karena akibat sebuah pembangunan yang tidak merata dan esensial.
Lagu kesembilan merupakan lagu Perahu Retak dalam format akustik, menurut admin versi ini juga memiliki keunikan tersendiri dan sangat asik mendengarnya. Bisa dikatakan juga ini versi langka yang tidak beredar dimanapun kecuali ada dalam versi album aslinya. Biasanya yang selalu dimuat dalam sebuah album kompilasi adalah versi pertamanya saja. Lagu kesepuluh dan terakhir adalah lagu yang masih berkaitan dengan lagu E Wada dan Parodi Saridin, tentang sebuah penggusuran, lagu tersebut berjudul Merah Putih Dan Reruntuhan, menyoroti derita mereka yang tergusur dilihat dari sisi psikologis, lagu ini juga menyisipkan melodi gundul gundul pacul sehingga menjadikan lagu bernuansa etnik kedua setelah E Wada dalam album ini.
Total ada sepuluh lagu yang memiliki pesan cukup kuat, yang merupakan hasil pemikiran Cak Nun bersama Franky Sahilatua. Bahkan hingga berkekade lamanya berlalu, dizaman sekarang sepertinya lagu dalam album ini masih aktual dan bisa menjadi pengingat bagi kita bersama untuk terus selalu bersama sama dalam menbangun sebuah bangsa yang madani, mengajarkan saling peka dengan saudara sendiri, menguatkan ikatan hati antara manusia dengan manusia, dan manusia dengan Tuhannya sendiri. Franky Sahilatua juga membutikan bahwa dunia kesenian bukan hanya tentang gemerlap semata, namun ia pun bisa menjadi sebuah alat penyampai pendapat dan sebuah pengingat bagi kita bersama yang mungkin lupa dengan semangat perjuangan yang selama ini didengungkan.
Untuk ulasan versi format CD album ini ada pada tautan ini: CD Perahu Retak - Franky Sahilatua/ Emha Ainun Nadjib 2000, beserta sedikit sejarah pembentukan terbentuknya duo duet ini. Format versi rilisan CD album ini memiliki beberapa perbedaan dengan versi rilisan kasetnya, terutama pada rancangan grafisnya yang didesain ulang oleh Lesin dengan memakai kertas yang lebih pendek dan simpel kemudian menghilangkan beberapa tulisan didalamnya, seperti prakata pembuka dari Cak Nun dan credit title para tim kerja Perahu Retak. Rancangan cover untuk versi rilisan kaset ini dikerjakan oleh Taufan Arifin, cover depan memakai gambar sebuah kapal yang diambil dari bagian relief Candi Borobudur, sangat cocok dengan tema yang diusung oleh album ini.
..........................
Franky! Nyanyi, Franky!...
Ingin saya turut mengantarkan album 'Perahu Retak' nya Franky ini, pertama dengan doa. Kedua, dengan pernyataan bahwa saya merasa bahagia bekerja sama dengannya, terutama karena ketulusan hatinya. Apakah ketulusan hati masih penting bagi dunia profesional, dunia bisnis, atau dunia kreativitas seni?. Itu tergantung orang perorang, tetapi itulah yang mempertemukan dan mengkaribkan kami.
Saya bukannya 'memilih' Franky, dan tidak 'memilih' penyanyi lain. Kami dipertemukan, mestinya ya oleh Tuhan. Bahan bangunan kerjasama kami adalah perjumpaan bathin, kemesraan sosial, serta semangat untuk memperluas wilayah kreativitas kesenian. Franky bekerjasama dengan siapa saja dan sayapun bekerjasama dengan siapa saja, dengan bahan bangunan semacam itu.
Melalui album ini saya berjalan di belakang Franky yang bernyanyi untuk bangsa Indonesia.
''Jangan Retak Dindingmu...''
Emha Ainun Nadjib
.....
Tim Kerja 'Perahu Retak':
Produser - Franky Sahilatua
Supervisor - Hare Rumemper
Produksi - Ken Project
Studio Rekam - Jackson Studio/ YMN Studio
Penata Rekam - Supri Gondrong & Irsan
Foto & Cover - Alex Palit
Desain Grafis - Taufan Arifin (TATA Media - Total Design)
Perwajahan Relief Candi Borobudur
Distributor - PT. Metrotama Musik Nusantara
......
Tracklist:
Side A
01 Perahu Retak
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik - Toto Tewel
Bass - Edi Edot
Kibor - Edi Darome
Perkusi - Innisisri
Rebana - Innisisri & Toto Tewel
Gondang - Innisisri
Suling - Buang Yus
Vokal Latar - Nita, Gita, Nana, Edi Darome, Toto Tewel, Franky S.
02 E Wada
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik - Toto Tewel
Kibor - Toto Tewel
Perkusi - Ivan Nestorman Dkk
Vokal latar - Ivan Nestorman, Nini M, Yolan S, Roy, Boi S, Pian, Gideon, Jenny, Korsin, Agus
Syair bahasa Manggarai - Ivan Nestorman
Floortome - Ivan Nestorman
03 Padang Bulan
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik - Toto Tewel
Kibor - Edi Darome
Vokal Latar - Gita, Nana, Nita, Edi Darome, Franky S, Toto Tewel
04 Tak Kunjung Datang
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik/ elektrik - Toto Tewel
Bass akustik - Edi Edot
Dram 2 - Rudi Q-Red
Tamborin - Toto Tewel
05 Lho Koq!
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik - Toto Tewel
Bass akustik - Edi Edot
Dram - Bakar
Kibor - Edi Darome
Side B
01 Lagu Capek
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik/ elektrik - Toto Tewel
Bass - Edi Edot
Dram - Innisisri
Kibor - Edi Darome
Ekrek ekrek - Toto Tewel
Rapper - Edi Darome
Vokal Latar - Ivan Nestorman, Nini M, Yolan, Jenny
02 Raksasa Kota
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik/ elektrik - Toto Tewel
Bass elektrik - Edi Edot
Dram - Rudy Q-Red
Kibor - Edi Darome
03 Parodi Saridin
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik - Toto Tewel
Bass akustik - Edi Edot
Dram - Rudy Q-Red
Vokal Latar - Toto Tewel, Edi Darome, Franky S
04 Perah Retak (accoustic version)
Gitar akustik - Toto Tewel
Dram - Toto Tewel
Perkusi - Toto Tewel, Edi Darome, Eddy Edot
Rebana - Toto Tewel
Kibor - Edi Darome
Bass - Edi Edot
Vokal Latar - Nita, Gita, Nana, Toto Tewel, Edi Darome, Franky S.
Penata Musik - Toto Tewel
05 Merah Putih Dan Reruntuhan
Lirik - Emha Ainun Najib
Lagu - Franky Sahilatua
Gitar akustik/ elektrik - Toto Tewel
Dram - Bakar
Bass - Edi Edot
Kibor - Edi Darome
Vokal Latar - Nita, Nana, Gita
Salam...





No comments:
Post a Comment
Seluruh komentar pada blog ini akan di MODERASI untuk mengantisipasi kemungkinan komentar yang tidak sesuai dengan topik postingan, spam, kata kata kasar, ujaran kebencian dan semacamnya.
Salam..