Format CD dan KASET album 'Camellia 1' - Ebiet G. Ade (Malaysia Press 2006)
Dari album inilah nama Ebiet G. Ade mencuat di blantika musik
tanah air, ia dianggap sebagai pembawa trend baru, pembaharu dengan menawarkan alternatif musik berbeda dari era sebelumnya. Perjuangan yang dilakukan juga cukup sangat menguras energi, seperti yang dikatakan juga oleh beliau diberbagai kesempatan wawancara, bahwa pada saat itu yang berusaha menawarkan demo album itu bukanlah Ebiet G. Ade sendiri, tetapi dibantu oleh kawan kawan karibnya yang tak kenal lelah bergerilya ke berbagai label rekaman mencoba peruntungan rekaman. Ebiet G. Ade sendiri malah tidak ikut secara penuh, karena merasa tidak pede dengan kemampuannya untuk menawarkannya kepada label rekaman.
Saat demo album pertama ini ditawarkan ke
berbagai label rekaman, jalan terjal berbatu dilalui, banyak yang menolak bahkan ada yang berkomentar
sinis, seperti ''..ini nyanyi atau ceramah ??''. Nasib kemudian berkata lain, berkat kegigihan tak kenal lelah akhirnya keberuntungan itu datang juga, demo tersebut secara tak sengaja didengar atau terdengar oleh pimpinan Jackson Records saat diputar untuk testing oleh petugas jaga dilobi kantor sebelum naik ke meja pimpinan. Pimpinan label yang bernama Jackson Arief tersebut langsung tertarik, feelingnya berkata bahwa ini musik bagus dan tentu saja memiliki daya jual, ia kemudian menawarkan project kontrak rekaman yang sehari kemudian baru disetujui oleh Ebiet G. Ade.
Tak lama setelah itu album bertajuk Camellia I akhirnya dilepas dipasaran, oleh label ia digandengkan dengan Billy J. Budiardjo seorang musikus berbakat, tugasnya adalah memintal aransemen musik dari dasar lagu yang telah dibuat oleh Ebiet G. Ade. Billy J. Budiardjo dalam album ini juga mengajak musisi muda berusia 19 tahun bernama Dodo Zakaria untuk bermain piano, keyboard, string, melotron dan synth. Dalam album ini lagu yang berhasil meledak menjadi hits besar adalah lagu Lagu Untuk Sebuah Nama dan Camellia I yang akan berlanjut nantinya hingga Camellia IV. Ada lagu bertema sosial yang cukup menyentuh berjudul Nasehat Pengemis Untuk Istri Dan Doa Bagi Hari Esok Mereka, kemudian lagu yang bercerita tentang kehidupan keras di kota Jakarta dalam Jakarta I, Lagu tentang kisah pengalaman spiritual pencarian makna ketuhanan dalam Hidup I dan Hidup II. Total ada 10 lagu yang kesemuanya sangat layak disimak, selain tema percintaan, ada tema tema lain yang mengandung pesan positif seperti petuah kehidupan, perenungan diri, makna ketuhanan dan juga pesan sosial.
Album
Camellia I merupakan album pertama
Ebiet G. Ade yang dirilis sekitar tahun 1979 dibawah label
Jackson Records & Tapes, namun pada tahun 1986 label tersebut tutup produksi dan sebagian besar master album rekaman telah dibeli atau berpindah kepemilikan kepada label
Musica Studio's. Pada tahun 1993 label
Musica Studio's kemudian merilis ulang album
Ebiet G. Ade ini dari
volume 1 (Camellia 1) hingga
volume 12 (Seraut Wajah) dengan beberapa perombakan pada rancangan covernya menjadi warna dominan putih, dan penambahan tulisan
''Digital Remastering'' yang bemakna bahwa album ini telah mengalami sentuhan kembali dengan sistim digital sehingga sound yang dihasilkan lebih mantap dan jernih. Label
Musica Studio's merilis series seperti ini pada kali kedua pada tahun 2000, semuanya sama dengan rilisan awal pada tahun 1993, bedanya pada rilisan kedua ini ditambahkan cover selongsong pembungkus luar agar terlihat lebih klasik dan menarik, ulasan lengkapnya ada
DISINI.
Pada perkembangan selanjutnya, label
Malaysia bernama
Music Valley Sdn. Bhd. pada tahun 2006 berminat merilis album
Ebiet G. Ade ini dengan mengambil lisensi dari
Musica Studio's. Hal tersebut bisa difahami, sebab penggemar
Ebiet G. Ade dinegara tersebut juga sangat
massiv, bahkan penggemar beliau sampai ke negara
Brunei Darussalam dan juga
Singapura. Album ini dirilis persis sama dengan versi
reissued Musica Studio's ''Digital Remastering'' namun ada sedikit perbedaan, jika di
Indonesia hanya versi kasetnya saja, maka di
Malaysia album ini selangkah lebih maju, selain merilisnya dalam bentuk kaset, ia juga dirilis dalam format CD untuk pertama kalinya yang uniknya dirilis di negeri orang.
Format CD rilisan Malaysia inilah yang sangat rare sekarang, karena di negeri sendiri album ini hingga kini belum pernah sekalipun dirilis dalam format CD. Admin melihat seperti sebuah anti klimaks, album ini justru pertama kalinya dirilis dalam format CD di negeri orang, mungkinkah disebabkan karena apresiasi musik didalam negeri begitu rendahnya? entahlah, yang jelas banyak faktor bermain disini. Saat ini kemungkinan untuk dirilis oleh label dalam negeri semakin tipis karena kini rilisan album fisik telah banyak ditinggalkan oleh banyak orang, mereka rata rata beralih kepada platform digital yang menawarkan kepraktisan dalam mendengarkan musik. Hanya beberapa gelintir orang saja yang masih membeli dan bertahan menyimpan album berbentuk fisik. Dengan perubahan trend cara menikmati musik tersebut, kemungkinan label merilis album dalam bentuk fisik semakin tipis, disamping itu label juga menghindari kerugian jika album yang dirilisnya tidak mencapai target yang ditentukan, karena memproduksi sebuah album membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bisa jadi jika dirilis suatu saat nanti, maka label akan lebih memilih merilis album dalam bentuk digital yang memiliki resiko kerugian minim.
Format CD
..........
Album: Camellia 1
Artist: Ebiet G. Ade
Kode: MVMS 102 CD
Label: Music Valley Sdn. Bhd.
Tahun: 2006
Harga (saat rilis): RM 16.90
Format KASET
..........
Album: Camellia 1
Artist: Ebiet G. Ade
Kode: MVMS 102 C
Label: Music Valley Sdn. Bhd.
Tahun: 2006
Harga (saat rilis): -
.................................
P. 2006 PT. MUSICA STUDIO'S
C. 2006 MUSIC VALLEY SDN. BHD. (188675D)
11-15, Jalan 5/91, Taman Shamelin Perkasa, 56100 Cheras, Kuala Lumpur.
Tel: 03-92005724, 03-92852149 (10 Lines)
Fax: 03-92871393/ 92817158
Cetakan: Audio Art Press Sdn. Bhd. (224773-M)
81, Jalan Hujan Emas 8, Taman Over Seas Union, 58200 Kuala Lumpur
*syair dan lagu oleh EBIET G. ADE
DIGITAL REMASTERING
FROM ORIGINAL MASTER TAPES
.....
Prakata:
Ebiet G. Ade lahir pada 21 April 1955 di Wonodadi sebuah desa dikawasan Banyumas yang letaknya 12 Km dari Banjarnegara, sekarang menetap di Jakarta.
Jelas apa yang ingin dijangkau Ebiet lewat album perdananya ini tiada lain adalah komunikasi dalam kemanusiaan dan keindahan. Sungguh karya musik dan sekaligus lirik-lirik yang di ciptakannya memiliki sesuatu energi segar bagi pembaharuan dan kemajuan blantika musik tanah air kita.
'Tak ada jalur definitif dalam warna musik saya ! Terserah saja mau dimasukkan dalam jenis apa musik garapan saya ini' demikian kata Ebiet. Sebab begitulah kadang-kadang pencipta lagu tak tahu masuk jenis apa atau jalur mana karya ciptaannya itu. Yang cukup bisa di fahami adalah bahwa Ebiet mecoba menyodorkan konsep musikalisasi pusis yang serba komplit dalam penggarapannya.
Secara polos Ebiet menerangkan bahwa pada awalnya ia lebih tertarik dengan bidang puisi. Dan baru kemudian ia menganggap bahwa puisi akan terasa lebih terasa komunikatif serta berdaya jangkau luas kalau dimusikalisasikan. Untuk pertama kalinya ditahun 1974 Ebiet mencoba muncul untuk menyanyikan puisi karya ''Emha Ainun Nadjib'' berjudul ''Kubakar Cintaku''
''Saya tidak mau disebut sebagai penyanyi!'' begitu ucap Ebiet. ''Saya punya cita-cita untuk skses sebagai penyair yang senang musik dan nyanyi'' katanya menegaskan. Ketika diadakan pertemuan para seniman di Yogyakarta, Ebiet muncul dengan menyanyikan sebuah lagu yang mengambil lirik dari puisi karya penyair Amerika terkemuka Emily Dickinson.
Kota-kota yang pernah menjadi pertunjukkan solonya antara lain Yogyakarta, Pekalongan dan Surabaya. Ebiet yang bersahabat dengan tokoh musik terkemuka Leo Kristi dikatakan sebagai memiliki suara mirip Jose Feliciano. 'Dia bukan penyanyi favorit saya, kalau benar suara saya mirip Jose Feliciano hal itu hanya sebagai kebetulan saja' ucap Ebiet. Lantas musisi mana yang menjadi idolanya? 'Mereka yang saya senangi adalah Bob Dylan, John Denver dan Joan Baez!'
Musik yang diciptakan Ebiet melalui lagu-lagunya terasa memiliki warna country modern, sekalipun disana sini terlihat juga unsur pop, rock, boogie, folk sampai kesentuhan klasik juga ia munculkan. Ebiet pernah ikut kursus gitar dengan tokoh kenamaan Kusbini.
Disini Ebiet memainkan gitar akustik dan harmonika. Thema keimanan berusaha ditonjolkan Ebiet dalam banyak puisi dan lagu-lagunya. 'Itulah sebabnya saya sangat terkesan oleh sastrawan penyair Subagyo Sastrowardoyo. Karya-karya puisinya mengungkapkan hubungan dengan ketuhanan. Dan secara jujur saya pernah mengalami keresahan dalam menilai ketuhanan ini. Tapi semakin saya jauh terasa semakin hampa, dan akhirnya saya kembali meyakini keimanan yang semakin mantap !' ucap Ebiet yang muslim itu.
Itulah sekelumit tentang Ebiet yang memiliki kemampuan besar untuk maju dan memajukan dunia musik pop Indonesia yang mulai nampak cerah dan menaik dalam cita rasa. Dan karya album perdana-nya ini memiliki momentum yang cukup meyakinkan.
.............
Syair & Lagu - Ebiet G. Ade
Para Pendukung Musik:
Billy JB - Music Director, Electric Guitar, Bass Guitar, Accoustic Guitar, Mellotron
Dodo - Accoustic Piano, String/ Mellotron, Synthesizer
Opop - Drums
Ebiet G. Ade - Accoustic Guitar, Harmonica
Suryati Supilin - Biola
Zulkifly - Cello
Sutanto - Flute
Rully - Recording Engineering
.......
Tracklist Album:
01 Lagu Untuk Sebuah Nama
Yogyakarta, Nov 1977
02 Camellia I
Oktober 1976
03 Pesta
Yogyakarya, 1978
04 Nasehat Pengemis Untuk Istri
Dan Do'a Untuk Hari Esok Mereka
Yogyakarta, 1977
05 Dia Lelaki Ilham Dari Surga
Yogyakarta, 30 Sept 1978
06 Jakarta I
20 Oktober 1978
07 Hidup I
Februari 1977
08 Hidup II
Yogyakarta, Februari 1977
09 Berjalan Dihutan Cemara
Desember 1977
10 Episode Cinta Yang Hilang
Yogyakarta, Desember 1978
Salam...
harap cd beliau dari vol1~12 akan dirilis dalam format yang lebih berkualiti dan sound yang mantap...
ReplyDeleteiya semoga saja begitu pak cik, agar kita semua memilikinya dan tak rare lagi dan juga harga terjangkau..
ReplyDelete