Tokoh Tokoh 'Digital Remastering' - Ebiet G. Ade (Musica Studio's 1993)
Album ini di rilis oleh Jackson Record pada tahun 1982, kemudian dengan mengalami perombakan pada desain covernya, label Musica Studio's kembali merilis ulang album ini dalam dua kali periode yaitu rilisan awa tahun 1993 sebanyak 9 seri dan rilisan kedua pada tahun 2000 sebanyak 12 seri dengan memakai penambahan cover selongsong luar berupa kertas tebal pembungkus kemasan mika kaset untuk menimbulkan kesan klasik dan elegan. Baik rilisan awal maupun rilisan kedua, secara umum memiliki desain yang sama, hanya terdapat beberapa perbedaan kecil saja, seperti font yang dipakai dan ukuran hurufnya. Kualitas sound yang dihasilkan lebih tebal daripada rilisan Jackson Recors, bisa jadi karena pihak Musica Studio's melakukan proses remastering kembali sebelum album ini dirilis, tujuannya jelas agar penikmat lagu lagu Ebiet G. Ade mendapatkan kepuasan saat mendengar kembali album ini dengan nuansa baru.
Format KASET rilisan 1993
..............................
Album: Tokoh Tokoh
Artist: Ebiet G. Ade
Kode: MSC 7890
Label: Musica Studio's
Tahun: 1993
Harga (saat rilis): 4.500,-
Format KASET rilisan 2000
...................
Album: Tokoh Tokoh
Artist: Ebiet G. Ade
Kode: ARS 0285
Label: Musica Studio's
Tahun: 2000
Harga (saat rilis): 15.000,-
Album Ebiet G. Ade ke enam ini seperti yang tercantum pada prakata didalam cover album ini, mengetengahkan tema tokoh tokoh, dimana menurut Ebiet G. Ade bahwa kita semua adalah tokoh tokoh walaupun hanya tokoh didalam lingkungan kecil atau bahkan hanya didalam hati kita masing masing, disini para tokoh tersebut mempunyai problemanya tersendiri. Inilah yang berusaha Ebiet G. Ade ceritakan, semoga kita bisa sebagai pendengar bisa memberikan solusi yang terbaik atau jika tidakpun dengan mendengar keluh kesah, setidaknya dapat meringankan beban para tokoh dialbum ini.
Total ada enam seri tokoh dialbum ini dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Tokoh I (Nyanyian Siang Dan Malam) memiliki kisah sedikit absurd yang susah ditebak bercerita tentang apa, menurut admin pribadi ini adalah kisah seseorang yang tengah berjuang dalam kehidupan melawan gelap dan pekat dengan gagahnya sehingga ia berhasil menggapai tongkat kehidupannya. Tokoh II (Cerita Suminah Dan Tukang Sapu) memiliki pembahasan tentang kisah cinta kaum kecil yang jauh dari gemerlap antara tukang sapu sebuah pasar dan anak gadis seorang penjual sayur, dengan kesederhanan ia meramu adonan cinta dan ia berhak menikmati itu semua dengan caranya sendiri. Tokoh III (Mimpi Mimpi Yang Kandas) bercerita tentang kepedihan seorang jejaka kepada kekasihnya, lewat surat ia tumpahkan segala kegundahannya bahwa ia telah kalah menanggulangi petaka yang beruntun datang, kehidupan dirantau tak semanis yang ia duga, dan ia gagal meraih mimpi indah yang gemerlapan.
Tokoh IV (Tentang Seorang Sahabat) berkisah tentang kekangan orang tua yang begitu besar kepada seorang anak lelakinya, sehingga untuk memilih kekasih hati pun harus dipilih sendiri oleh orang tua tersebut, dengan berhati hati sianak mendekati ibu dan bicara dengan lemah lembut agar tidak menyakiti perasaannya, mengungkapkan apa yang terasa didada pemuda tersebut, bahwa ia telah jatuh cinta kepada seorang gadis dan hendaknya si ibu ini tidak melarangnya. Sebuah kisah yang jarang terjadi dimasa ini, namun perjodohan kerap dilakukan meskipun sianak tidak saling mengenal satu sama lain. Tokoh V (Tetes Tetes Doa Kami) berisi ungkapan kerinduan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar ia dan seluruh keluarga diberikan keberkahan, petunjuk didalam menjalani setiap kehidupan yang telah digariskan. Tokoh VI (Seruling Malam) berkisah tentang ungkapan kebahagiaan suami istri didalam menyambut kehadiran anak tercinta.
Selain enam seri lagu bertematik Tokoh Tokoh ini, ada empat lagu lagi yang tidak berkaitan dengan tokoh ini, lagu pertama adalah Untuk Kita Renungkan yang merupakan lagu jagoan didalam album ini dan berhasil melejit menjadi salah satu hits besar sepanjang karier Ebiet G. Ade, terilhami dari letusan Gunung Galunggung ditahun 1982. Konsepnya masih sama seperti lagu Berita Kepada Kawan, lagu ini tidak secara langsung menuliskan tentang bencana tersebut, hanya ulasan secara umum agar kita benar benar suci lahir maupun bathin kemudian mengajak untuk lebih introspeksi/ merenung kedalam diri. Bencana yang ada hanya sebagai isyarat agar kita segera kembali sadar dan kembali kepadaNya, karena Tuhan berada sangat dekat dengan kita, maka usahakanlah agar ia selalu tersenyum.
Lagu kedua yang tidak berkaitan dengan tokoh adalah Dendang Kita Bersama yang mengulas tentang sebuah semangat, jika merasa kehilangan maka singkirkan saja semua beban yang ada, dengarkan nyanyian alam untuk meredakan segala keresahan. Setiap orang bebas untuk bernyanyi, meskipun sumbang lepas terdengar. Lagu ketiga adalah Kapankah Kita Kan Berlabuh yang memiliki makna sebuah pertanyaan tentang perjalanan bathin seorang manusia dalam menjalani liku kehidupan. Lagu terakhir yang tidak berkaitan dengan karakter tokoh adalah Lakon Anak Anak Bencana yang sepertinya masih memiliki kaitan dengan lagu Untuk Kita Renungkan, dilagu ini lebih membahas sisi psikologis dari anak anak yang terkena dampak bencana, sementara mereka belum mengerti apapun dan harus menanggung semua itu dipundaknya yang rapuh.
Ada hal menarik lainnya dialbum ini, yaitu konduktor kenamaan Erwin Gutawa dialbum ini memainkan instrument gitar bass pada keseluruhan lagu lagunya. Saat pertama memasuki industri musik beliau memang terkenal dengan pemain bass handal, ternyata beliau lebih dari sekedar pemain bass yang handal, skill memainkan alat musik yang lain juga sangat menawan seperti piano atau keyboard, ditambah lagi ia mampu menulis partitur dengan sangat baik. Kombinasi itu semua ditambah jam terbang tinggi membuat beliau saat ini menjadi salah satu penata musik, konduktor, komponis, penata musik dan produser legendaris terdepan dinegeri ini.
Total ada enam seri tokoh dialbum ini dengan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Tokoh I (Nyanyian Siang Dan Malam) memiliki kisah sedikit absurd yang susah ditebak bercerita tentang apa, menurut admin pribadi ini adalah kisah seseorang yang tengah berjuang dalam kehidupan melawan gelap dan pekat dengan gagahnya sehingga ia berhasil menggapai tongkat kehidupannya. Tokoh II (Cerita Suminah Dan Tukang Sapu) memiliki pembahasan tentang kisah cinta kaum kecil yang jauh dari gemerlap antara tukang sapu sebuah pasar dan anak gadis seorang penjual sayur, dengan kesederhanan ia meramu adonan cinta dan ia berhak menikmati itu semua dengan caranya sendiri. Tokoh III (Mimpi Mimpi Yang Kandas) bercerita tentang kepedihan seorang jejaka kepada kekasihnya, lewat surat ia tumpahkan segala kegundahannya bahwa ia telah kalah menanggulangi petaka yang beruntun datang, kehidupan dirantau tak semanis yang ia duga, dan ia gagal meraih mimpi indah yang gemerlapan.
Tokoh IV (Tentang Seorang Sahabat) berkisah tentang kekangan orang tua yang begitu besar kepada seorang anak lelakinya, sehingga untuk memilih kekasih hati pun harus dipilih sendiri oleh orang tua tersebut, dengan berhati hati sianak mendekati ibu dan bicara dengan lemah lembut agar tidak menyakiti perasaannya, mengungkapkan apa yang terasa didada pemuda tersebut, bahwa ia telah jatuh cinta kepada seorang gadis dan hendaknya si ibu ini tidak melarangnya. Sebuah kisah yang jarang terjadi dimasa ini, namun perjodohan kerap dilakukan meskipun sianak tidak saling mengenal satu sama lain. Tokoh V (Tetes Tetes Doa Kami) berisi ungkapan kerinduan dan doa kepada Yang Maha Kuasa agar ia dan seluruh keluarga diberikan keberkahan, petunjuk didalam menjalani setiap kehidupan yang telah digariskan. Tokoh VI (Seruling Malam) berkisah tentang ungkapan kebahagiaan suami istri didalam menyambut kehadiran anak tercinta.
Selain enam seri lagu bertematik Tokoh Tokoh ini, ada empat lagu lagi yang tidak berkaitan dengan tokoh ini, lagu pertama adalah Untuk Kita Renungkan yang merupakan lagu jagoan didalam album ini dan berhasil melejit menjadi salah satu hits besar sepanjang karier Ebiet G. Ade, terilhami dari letusan Gunung Galunggung ditahun 1982. Konsepnya masih sama seperti lagu Berita Kepada Kawan, lagu ini tidak secara langsung menuliskan tentang bencana tersebut, hanya ulasan secara umum agar kita benar benar suci lahir maupun bathin kemudian mengajak untuk lebih introspeksi/ merenung kedalam diri. Bencana yang ada hanya sebagai isyarat agar kita segera kembali sadar dan kembali kepadaNya, karena Tuhan berada sangat dekat dengan kita, maka usahakanlah agar ia selalu tersenyum.
Lagu kedua yang tidak berkaitan dengan tokoh adalah Dendang Kita Bersama yang mengulas tentang sebuah semangat, jika merasa kehilangan maka singkirkan saja semua beban yang ada, dengarkan nyanyian alam untuk meredakan segala keresahan. Setiap orang bebas untuk bernyanyi, meskipun sumbang lepas terdengar. Lagu ketiga adalah Kapankah Kita Kan Berlabuh yang memiliki makna sebuah pertanyaan tentang perjalanan bathin seorang manusia dalam menjalani liku kehidupan. Lagu terakhir yang tidak berkaitan dengan karakter tokoh adalah Lakon Anak Anak Bencana yang sepertinya masih memiliki kaitan dengan lagu Untuk Kita Renungkan, dilagu ini lebih membahas sisi psikologis dari anak anak yang terkena dampak bencana, sementara mereka belum mengerti apapun dan harus menanggung semua itu dipundaknya yang rapuh.
Ada hal menarik lainnya dialbum ini, yaitu konduktor kenamaan Erwin Gutawa dialbum ini memainkan instrument gitar bass pada keseluruhan lagu lagunya. Saat pertama memasuki industri musik beliau memang terkenal dengan pemain bass handal, ternyata beliau lebih dari sekedar pemain bass yang handal, skill memainkan alat musik yang lain juga sangat menawan seperti piano atau keyboard, ditambah lagi ia mampu menulis partitur dengan sangat baik. Kombinasi itu semua ditambah jam terbang tinggi membuat beliau saat ini menjadi salah satu penata musik, konduktor, komponis, penata musik dan produser legendaris terdepan dinegeri ini.
Album ini di rilis oleh Jackson Record pada tahun 1982, kemudian dengan mengalami perombakan pada desain covernya, label Musica Studio's kembali merilis ulang album ini dalam dua kali periode yaitu rilisan awa tahun 1993 sebanyak 9 seri dan rilisan kedua pada tahun 2000 sebanyak 12 seri dengan memakai penambahan cover selongsong luar berupa kertas tebal pembungkus kemasan mika kaset untuk menimbulkan kesan klasik dan elegan. Baik rilisan awal maupun rilisan kedua, secara umum memiliki desain yang sama, hanya terdapat beberapa perbedaan kecil saja, seperti font yang dipakai dan ukuran hurufnya. Kualitas sound yang dihasilkan lebih tebal daripada rilisan Jackson Recors, bisa jadi karena pihak Musica Studio's melakukan proses remastering kembali sebelum album ini dirilis, tujuannya jelas agar penikmat lagu lagu Ebiet G. Ade mendapatkan kepuasan saat mendengar kembali album ini dengan nuansa baru.
..............................
Album: Tokoh Tokoh
Artist: Ebiet G. Ade
Kode: MSC 7890
Label: Musica Studio's
Tahun: 1993
Harga (saat rilis): 4.500,-
Format KASET rilisan 2000
...................
Album: Tokoh Tokoh
Artist: Ebiet G. Ade
Kode: ARS 0285
Label: Musica Studio's
Tahun: 2000
Harga (saat rilis): 15.000,-
............................
TOKOH-TOKOH
Pada hakekatnya, kita-kita ini adalah Tokoh-tokoh.
Walau hanya sebagai tokoh dalam sekelompok kehidupan kecil atau bahkan hanya dalam kehidupan bathin masing-masing.
Kesimpulan ini saya jadikan titik dasar idea saya dalam album ke VI, yang didalamnya terdapat lagu-lagu dengan berbagai karakter dari Tokoh-tokoh yang ada di sekeliling kita.
Tokoh-tokoh imajiner kita kali ini punya beberapa problema yang layak didengar atau bahkan kita bisa turut membantu berfikir dan kemudian memberi jalan keluar agar persoalan dapat diselesaikan dengan lugas dan tuntas.
Tentu saja sesuai dengan kadar dan derajat pemikiran masing-masing tokoh.
Saya banyak belajar dari Tokoh-tokoh yang ada di sekeliling saya, banyak yang saya petik dari ilustrasi yang hiruk pikuk dari berbagai corak kehidupan dan setapak demi setapak saya meniti, terus meniti.
Terlepas dari segala ungkapan yang saya paparkan diatas, saya berharap bahwa album ke VI ini akan melesat sebagai satu TOKOH.
Ia yang saya bentuk sepenuh hati,
Ia yang saya olah dengan teliti,
Ia yang penuh tantangan.
Alhasil, semoga Tokoh kita ini akan didengar,
Di amati
Di mengerti
Di nikmati dan akhirnya,
Di cintai
Salam manis dari saya
ttd
(Ebiet G. Ade)
...
Lyric dan lagu: Ciptaan Ebiet G. Ade
Aransemen: Billy J. Budiardjo dan Ebiet G. Ade, Nyanyian siang dan malam oleh Dodo Drakhma
Musisi Pendukung:
Billy JB: Music director, giutars pedal, stell guitars
Ebiet G. Ade: Accoustic guitars
Dodo Drakhma: Piano, rhodes
Norman: Drums
Erwin Gutawa: Bass
Yudhianto HP: Oboe, flute clarinet, alto &soprano block flute
Yap Cie Kian, Suryati Supilin, Kwang Cu, Sunardi S: Violin
Zulkifly: Cello
Operator: Kusye Ratuela
Recording Studio: Jackson Recording Studio
Tracklist:
Side A
01 Untuk Kita Renungkan (jakarta 1982)
02 Dendang Kita Bersama (jakarta 1982)
03 Tentang Seorang Sahabat (Tokoh IV) (jakarta 1982)
04 Cerita Suminah Dan Tukang Sapu (Tokoh II) (jakarta 1982)
05 Nyanyian Siang Dan Malam (Tokoh I) (jakarta, 21 april 1982)
Side B
01 Seruling Malam (Tokoh VI) (jakarta 1982)
02 Lakon Anak Anak Bencana (jakarta 1982)
03 Tetes Tetes Doa Kami (Tokoh V) (jakarta, juli 1982)
04 Kapankah Kita Kan Berlabuh (jakarta 1982)
05 Mimpi Mimpi Yang Kandas (Tokoh III) (jakarta 1982)
Salam...







Belum ada lagi Penyanyi Seperti Ebiet G Ade. Pemain gitar, pencipta lagu, Penyanyi. Musiknya penuh ruh, cara menyanyinya sangat dijiwai. Sehingga jika kita mendengarkan lagu2 nya, sepertinya kita ada di awang-awang.
ReplyDelete